Wisata Gili Trawangan dan Air Terjun
4 Hari 3 Malam

Liburan Lengkap 4 Hari 3 Malam di Lombok: Budaya, Pantai, Gili, dan Air Terjun Eksotis.

Destinasi Seru di Lombok

HARI 1: Sentuhan Budaya Sasak & Keindahan Pantai Selatan

HARI 2: Petualangan Seru di Gili Trawangan & Berburu Oleh-Oleh

HARI 3: Menyegarkan Diri di Air Terjun Benang Stokel & Benang Kelambu

HARI 4: Waktunya Pulang, Tapi Kenangan Tak Akan Hilang

Paket Termasuk

Paket Tidak Termasuk

Hubungi Sekarang
Ambil Promonya

Testimoni

Cerita Liburan: Lombok dalam 4 Hari yang Penuh Cerita dan Rasa

Lombok selalu punya ruang khusus di hati saya. Bukan karena pernah tinggal di sana, tapi karena setiap sudutnya selalu berhasil bikin saya merasa tenang. Dan liburan kali ini terasa lebih bermakna karena saya putuskan ikut paket tour ke Lombok 4 hari 3 malam bareng Wisata Lombok Plus.

Bukan cuma main ke pantai atau pulau, tapi juga diajak menyentuh akar budaya, menjelajah bawah laut, dan menyegarkan diri di kaki Rinjani. Kombinasi pas antara alam, budaya, dan pengalaman yang “nggak asal mampir.”

Hari Pertama: Mendarat dan Langsung Disambut Budaya Sasak
Tiba di Bandara Zainuddin Abdul Madjid, saya langsung dijemput oleh pemandu dari tim Wisata Lombok Plus. Nggak perlu bingung atau nanya-nanya—semua sudah diatur. Timnya ramah, komunikatif, dan tahu bagaimana mencairkan suasana.

Tujuan pertama kami adalah Desa Adat Sade. Desa ini bagaikan jendela kecil yang menunjukkan bagaimana masyarakat asli Lombok, Suku Sasak, hidup dengan adat istiadat yang masih sangat dijaga. Rumah-rumahnya terbuat dari bambu dan alang-alang, dengan lantai tanah yang dilumuri kotoran kerbau. Aneh? Justru itulah keunikannya. Saya sempat ngobrol dengan salah satu ibu yang sedang menenun. Dia bilang, semua perempuan Sasak memang diajarkan menenun sejak kecil. Kalau belum bisa menenun, belum boleh menikah. Wow.

Dari desa, kami lanjut ke Pantai Kuta Mandalika. Saya langsung jatuh cinta. Pantainya bersih, tidak terlalu ramai, dan pemandangannya luar biasa. Sambil makan siang di resto sekitar, saya memandangi ombak yang datang pelan-pelan. Damai banget. Dan ternyata pantai ini juga punya kisah legenda, tentang Putri Mandalika yang mengorbankan diri demi perdamaian.

Lalu kami mampir sebentar ke Sirkuit Mandalika. Saya kira cuma untuk foto-foto, tapi pemandu bercerita soal sejarah dan peran sirkuit ini dalam mendongkrak nama Lombok di mata dunia. Bangga sih, punya sirkuit internasional di pulau seindah ini.

Setelah itu, kami meluncur ke Pantai Tanjung Aan. Pasirnya unik—ada yang halus seperti tepung, ada juga yang berbentuk bulat-bulat seperti merica. Air lautnya? Sebening kaca. Saya sempat jalan nyeker, cuma menikmati angin sore yang lembut dan suara ombak yang tenang.

Menjelang sunset, kami naik ke Bukit Merese. Nggak tinggi, tapi view dari atasnya bikin saya terdiam cukup lama. Laut lepas, langit yang mulai oranye, dan angin yang terus berhembus. Nggak perlu kata-kata. Rasanya seperti… pulang.

Sebelum ke hotel, kami mampir ke Desa Sukarara—sentra tenun ikat Lombok. Saya sempat coba menenun, dan hasilnya… jelek. Tapi itu pengalaman yang berkesan. Malamnya kami makan malam di restoran lokal, sebelum akhirnya check-in dan istirahat.

Hari Kedua: Hopping Island ke Tiga Gili & Belanja Oleh-Oleh
Hari kedua diawali dengan sarapan di hotel. Sekitar jam 9 pagi, kami berangkat ke arah utara menuju Bukit Malimbu. Ini spot ikonik yang menyuguhkan pemandangan tiga gili sekaligus: Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Saya langsung paham kenapa tempat ini sering dijadikan spot pre-wedding.

Dari sana, kami menyebrang lewat Pelabuhan Teluk Nare dengan glass bottom boat. Seru banget karena bisa melihat dasar laut dari balik kaca perahu. Sepanjang perjalanan, saya terus melongok ke bawah, berharap lihat penyu. Belum beruntung sih, tapi ikan-ikannya cukup banyak.

Sampai di Gili Trawangan, kami dikasih waktu bebas. Saya pilih sewa sepeda dan keliling pulau. Jalannya datar, anginnya sejuk, dan pemandangannya bikin bahagia. Beberapa turis terlihat snorkeling, yang lain sekadar duduk-duduk di bean bag sambil baca buku. Saya? Nge-teh sambil makan pisang goreng di pinggir pantai.

Kami makan siang di resto tepi pantai. Sambil makan seafood segar, saya menatap laut sambil dalam hati bilang, “Lombok, kamu keterlaluan bagusnya.”

Selesai di Gili, kami kembali ke Lombok dan mampir ke pusat oleh-oleh. Saya beli mutiara Lombok, tenun, kaos khas, dan tentu saja snack lokal buat keluarga di rumah.

Malamnya makan malam lagi di restoran lokal. Saya mulai hafal citarasa masakan Lombok: pedasnya mantap, gurihnya nendang. Pulang ke hotel, perut kenyang, hati pun puas.

Hari Ketiga: Mandi di Air Terjun Kaki Gunung Rinjani
Hari ketiga adalah hari yang saya tunggu-tunggu. Kenapa? Karena kami akan ke dua air terjun legendaris: Benang Stokel dan Benang Kelambu.

Setelah sarapan, kami berkendara ke arah tengah pulau. Jalanannya agak naik-turun, tapi pemandangannya indah banget—hutan, sawah, dan gunung di kejauhan.

Sampai di lokasi, kami jalan kaki sebentar ke Air Terjun Benang Stokel. Dua aliran air jatuh dari ketinggian 30 meter, menyembur kuat di antara pepohonan. Suaranya keras, tapi justru itu yang bikin suasananya hidup. Beberapa orang mandi di bawah air terjun, yang lain cuma duduk sambil basahin kaki.

Lanjut ke Benang Kelambu, dan… ini luar biasa. Airnya nggak jatuh langsung, tapi mengalir seperti tirai tipis dari tebing yang ditumbuhi tanaman hijau. Kayak kelambu. Beneran. Saya langsung turun dan main air sebentar. Airnya dingin, segar, dan terasa seperti terapi setelah dua hari eksplor.

Kami makan siang di warung lokal sebelum balik ke hotel. Sore dan malamnya jadi waktu bebas. Saya pilih santai di hotel, beresin koper, dan scroll galeri HP yang sudah penuh foto-foto Lombok.

Hari Keempat: Waktunya Pulang… Tapi Ingin Kembali
Pagi terakhir di Lombok. Saya bangun pelan-pelan, sarapan santai, dan duduk sebentar di taman hotel. Angin masih semilir, burung masih berkicau, dan hati saya mulai berat. Liburan 4 hari ini rasanya cepat banget.

Ketika dijemput untuk ke bandara, saya sudah nggak banyak bicara. Mungkin karena tubuh sudah penuh pengalaman, dan pikiran masih ada di Bukit Merese, Gili Trawangan, dan Benang Kelambu.

Kenapa Saya Rekomendasikan Wisata Lombok Plus?
Saya bukan orang yang gampang puas soal traveling. Tapi pengalaman bareng Wisata Lombok Plus ini terasa rapi, hangat, dan menyenangkan. Itinerary-nya lengkap, fleksibel tapi tetap terstruktur. Pemandu dan driver-nya juga ramah, nggak kaku, dan komunikatif. Mereka nggak sekadar antar-jemput, tapi benar-benar ngerti Lombok—dan itu bikin semua tempat jadi lebih hidup.

Kalau kamu cari paket wisata ke Lombok yang nggak sekadar lewat, tapi benar-benar ngajak kamu “merasakan” Lombok, ya ini pilihannya.

Siapa yang Cocok Ikut Paket Ini?
Kalau kamu:

Baru pertama kali ke Lombok

Pengen liburan yang komplit tapi nggak bikin lelah

Suka kombinasi budaya, pantai, dan alam

Butuh healing dari rutinitas tapi tetap aktif

…paket ini cocok banget buat kamu.